Berbagai macam masalah kehilangan dapat terjadi pada paska bencana, baik itu kehilangan harta benda, keluarga maupun orang yang bermakna. Kehilangan ini merupakan stresor yag menyebabkan stres pada mereka yang mengalaminya. Bila stress ini berkepanjangan dapat memicu masalah gangguan jiwa dan salah satu tandanya adalah waham.
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari artikel pembaca diharapkan mampu :
1. Mengkaji data yang terkait masalah waham
2. Menetapkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan waham
3. Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien dengan waham
4. Melakukan tindakan keperawatan kepada keluarga pasien dengan waham
5. Mengevaluasi kemampuan pasien dan keluarga dalam menangani masalah waham
6. Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pasien dengan waham
B. PENGKAJIAN
1. Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/terus menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan.
2. Tanda dan Gejala waham adalah :
Untuk mendapatkan data waham saudara harus melakukan observasi terhadap perilaku berikut ini:
a. Waham kebesaran
Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan
berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Saya ini pejabat di departemen kesehatan lho..” atau “Saya
punya tambang emas”
b. Waham curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan/mecederai dirinya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Saya tahu..seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup
saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya”
c. Waham agama
Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan
Contoh: “Kalau saya mau masuk surga saya harus menggunakan pakaian
putih setiap hari”
d. Waham somatik
Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu/terserang penyakit, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Saya sakit kanker”, setelah pemeriksaan laboratorium tidak
ditemukan tanda-tanda kanker namun pasien terus mengatakan
bahwa ia terserang kanker.
e. Waham nihilistik
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal,diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Ini khan alam kubur ya, semua yang ada disini adalah roh-roh”
Selama pengkajian saudara harus mendengarkan dan memperhatikan semua informasi yang diberikan oleh pasien tentang wahamnya.
Untuk mempertahankan hubungan saling percaya yang telah terbina jangan menyangkal, menolak, atau menerima keyakinan pasien.
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data yang diperoleh ditetapkan diagnosa keperawatan:
GANGGUAN PROSES PIKIR: WAHAM
D. TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Tindakan keperawatan untuk pasien
a. Tujuan
1) Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap
2) Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
3) Pasien menggunakan obat dengan prinsip 6 benar
b. Tindakan
1) Bina hubungan saling percaya
Sebelum memulai mengkaji pasien dengan waham, saudara harus membina hubungan saling percaya terlebih dahulu agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah:
a). Mengucapkan salam terapeutik
b). Berjabat tangan
c). Menjelaskan tujuan interaksi
d). Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien.
2) Tidak mendukung atau membantah waham pasien
3) Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman
4) Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari
5) Jika pasien terus menerus membicarakan wahamnya dengarkan tanpa memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien berhenti membicarakannya
6) Berikan pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan realitas.
Latihan 1: Membina hubungan saling percaya dan mengidentifikasi waham pasien
Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini
7) Diskusikan dengan pasien kemampuan realistis yang dimilikinya pada saat yang lalu dan saat ini
8) Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan yang dimilikinya.
9) Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.
10) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan
emosional pasien
12) Berbicara dalam konteks realitas
13) Bila pasien mampu memperlihatkan kemampuan positifnya berikan pujian yang sesuai
14) Jelaskan pada pasien tentang program pengobatannya (manfaat, dosis obat, jenis, dan efek samping obat yang diminum serta cara meminum obat yang benar)
15) Diskusikan akibat yang terjadi bila pasien berhenti minum obat
tanpa konsultasi
2. Tindakan keperawatan yang ditujukan untuk keluarga
a. Tujuan :
1) Keluarga mampu mengidentifikasi waham pasien
2) Keluarga mampu memfasilitasi pasien untuk memenuhi
kebutuhan yang dipenuhi oleh wahamnya.
3) Keluarga mampu mempertahankan program pengobatan pasien
secara optimal
b. Tindakan :
1) Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami pasien
2) Diskusikan dengan keluarga tentang :
a) Cara merawat pasien waham dirumah
b) Follow up dan keteraturan pengobatan
c) Lingkungan yang tepat untuk pasien.
3).Diskusikan dengan keluarga tentang obat pasien (nama obat,
dosis, frekuensi, efek samping, akibat penghentian obat)
4).Diskusikan dengan keluarga kondisi pasien yang memerlukan
konsultasi segera
E. EVALUASI
1. Pasien mampu:
a. mengungkapkan keyakinannya sesuai dengan kenyataan
b. berkomunikasi sesuai kenyataan
c. menggunakan obat dengan benar dan patuh
2. Keluarga mampu:
a. Membantu pasien untuk mengungkapkan keyakinannya
sesuai kenyataan
b.Membantu pasien melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan pasien
c.Membantu pasien menggunakan obat dengan benar dan patuh
Read More...
Selasa, 20 Januari 2009
ASKEP TRAUMA ESOFAGUS
A. Konsep Dasar Medis
1. Pengertian
Trauma adalah adalah cedera, baik fisik atau psikis (Dorland, 1998) ,trauma esofagus adalah benda baik tajam atau tumpul, atau makanan yang tesangkut dan tejepit di esophagus karena tertelan. Baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
2. Etiologi
pada anak penyebabnya antara lain adalah anomaly congenital, termaksud stenosis congenital, web, fistel trauma esophagus, dan pelebaran pembulu darah. Pada orang dewasa sering terjadi akibat mabuk, pemakai gigi palsu yang telah kehilangan sensasi rasa palatum, gangguan mental, dan psikosis.
3. Patofisiologi
Ketika benda asing masuk kedalam esophagus dapat membentuk suatu peradangan pada esophagus dan menimbulkan suatu efek trauma pada esophagus kemudian menimbulkan suatu edema yang menimbulkan rasa nyeri. Efek lebih lanjut adalah terjadi penumpukan makanan, rasa penuh dileher dan kemudian dapat mengganggu system pernapasan sebagai akibat trauma yang juga mempengaruhi trachea, dimana trachea memiliki jarak yang dekat dengan esophagus.
4. Manifestasi Klinik
Gejalah sumbatan tergantung pada ukuran, bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya komplikasi yang timbul dan lama tertelan. Mula-mula timbul nyeri didaerah leher, kemudian timbul rasa tidak enak didaerah substernal atau nyeri dipunggung. Terdapat rasa tercekik, rasa tersumbat ditenggorok, batuk, muntah, disfagiah, berat badan menurun, demam, hipersalifasi, regurgitasi dan gangguan napas. pada pemeriksaan fisik terdapat kekakuan local pada leher bila benda asing terjepit akibat edema yang timbul prokresif pada anak-anak terdapat gejala nyeri atau batuk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan ronghi, demam abses leher empisema subkutan, berat badan menurun, gangguan pertumbuhan dan obstruksi saluran napas.
5. Penatalaksanaan
Pasien dirujuk di rumah sakit untuk dilakukan esofagoskopi dengan memakai cunam yang sesuai agar benda asing tersebut dapat dikeluarkan. Kemudian dilakukan esofagoskofi ulang untuk menilai kelainan-kelainan esophagus yang telah ada sebelumnya untuk benda asing, tajam yang tidak bisa dikeluarkan dengan esofagoskopi harus segerah dilakukan pembedahan sesuai lokasi benda asing tersebut. Bila dicurai perforasi kecil, segerah dipasang pipa nasogastar agar pasien tidak menelan dan diberikan antibiotic dan analgetik berspektrum luar selama 7-10 hari agar tidak terjadi sepsis. Bila letak benda asing menetap selama 2 kali 24 jam maka benda asing tersebut harus dikeluarkan secara pembedahan.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi berupa foto polos esophagus servikal dan torakal anteroposteriol dan iteral harus dilakukan pada semua pasien yang diduga tertelan benda asing. Bila benda asing radioopak mudah diketahui lokasinya sedangkan bila radiolusen, dapat diketahui benda implamasi periesofagus atau hiperint plamasi hipofaring dan esophagus bagian proksimal. Esofagogram dilakukan untuk benda asing radiolusen, yang akan memperlihatkan filling defect persisistent. dapat dilakukan tomografi computer. Tindakan endoskopi dilakukan untuk tujuan diagnostik dan terapi.
7. Komplikasi
laserasi mukosa perdarahan, perforasi lokal dengan abses leher atau mediastinitis. perforasi dapat menimbulkan selulitis local dan fistel esophagus. Gejala dan tanda ferforasi esofagus dan antara lain episema subkutis atau mediastinum. Krepitasi kulit didaerah leher atau dada atau pembengkakan leher, kaku leher, demam, mengigil, gelisa, takikardi, takipnea, nyeri yang menjalar kepunggun, dan retrosternal, epigastrium. penjalaran ke pleura menimbulkan pneumotoraks dan piotoraks. Bila lama berada diesofagus menimbulkan jaringan granulasi dan radang oeriesofagus. benda asing seperti batere alkali menimbulkan toksititas intrinsik local dan sistemik dengan reaksi edema dan implamasi local. Trauma esofagus juga bisa mengakibatkan tumor esofagus dimana bila adanya riwayat tertelan zat korosit yang menyebabkan peradangan kronis pada esofagus yang menyebabkan klaina pada esofagus.
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
Nyeri pada saat menelan
Nyeri substernal
Perasaan penuh
Ketakutan dan ansietas
Penurunan berat badan
Napas busuk dan batuk
Suara serak dan batuk
Paralise diagfragma
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidak efektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan obstruksi esofagus
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia dan disfagia
c. Nyeri yang berhubungan dengan proses penyakit
d. Ansietas/takut yang berhubungan dengan prognosa penyakit buruk
e. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kuranya informasi mengenai perawatan rumah.
f. Resiko infeksi berhubungan dengan implamasi pada esofagus
3. Intervensi
a. Ketidak efektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan obstruksi esofagus
Tujuan : Pasien mendemonstrasikan kemampuan untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.
1. Kaji pola napas klien
R/ : Untuk mengetahui sejauh mana pola napas pasien sebaga indikator intervensi selanjutnya.
2. Pertahankan tira baring jika kondisi memerlukannya
R/ : Tira baring dapat membantu relaksasi otot-otot pernapasan
3. Tinggikan kepala tempat tidur 30 sampai 45 derajat (posisi semi fowler)
R/ : Posisi semi fowler (posisi duduk 30 sampai 45 derajat) mengurangi penekanan abdominalis terhadap diafragma.
4. Hindari posisi terlentang
R/ : Posisi terlentang dapat membuat penekanan abdominalis terhadap diafragma sehingga ekspansi paru tidak maksimal.
5. lakukan pengisapan orotrakeal jika dibutuhkan
R/ : Pengisapan orotrakeal membantu pengeluaran mukus yang menyumbat jalan napas.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia dan disfagia
Tujuan : Masukan kalori pasien dipertahankan, dan nutrisi seimbang
1. kaji kemampuan pasien untuk menelan cairan dan makanan
R/ : Untuk mengidentifikasi kemampuan pasien menelan cairan dan makanan guna intervensi selanjutnya.
2. Ukur masukan dan haluaran
R/ : Untuk mengetahui seberapa banyak kebutuhan nutrisi dan cairan yang dibutuhkan klien.
3. Beri dukungan kepada pasien untuk mengunya makanan dengan baik, untuk mengigit dalam jumlah kecil, dan untuk makan pelan
R/ : Jika makanan dalam bentuk halus maka membantu proses pencernaan
4. Bantu pemberian makanan jika perlu
R/ : Membantu pemenuhan nutrisi klien
5. Bantu dalam pemasangan selang NG jika dipesankan
R/ : Membantu pemenuhan nutrisi dengan selang NG
6. Libatkan ahli gizi dalam bantuan perencanan tipe khusus dari makanan
R/ : Untuk pemenuhan nutrisi yang seimbang.
c. Nyeri yang berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan : Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada nyeri
1. Kaji nyeri, lokasi, karasteristik, mulai timbul, frekuensi dan intensitas, gunakan tingkat ukuran nyeri
R/ : untuk mengukur tingkat/kualitas nyeri guna intervensi selanjutnya
2. Ajarkan dan bantu dengan alternative teknik pengurangan nyeri (misalnya imajinasi, musik, relaksasi)
R/ : Pengalihan perhatian dapat mengurangi nyeri
3. Ubah posisi setiap 2 sampai 4 jam
R/ : Posisi yang nyaman dapat membantu mengurangi tingkat nyeri.
4. Berikan analgesik jika dipesankan
R/ : Analgesic dapat mengurangi nyeri.
d. Ansietas/takut yang berhubungan dengan prognosa penyakit buruk
Tujuan : Pasien atau orang terdekat memberikan perawatan mengungkapkan rasa takut dan ansietas dan menggunakan mekasisme koping efektif
1. Kaji kemampuan pasien dan orang terdekat untuk mengkomunikasikan perasaan
R/ : Mengkomunikasikan/mendiskusikan masalah dapat membantu mengurangi rasa cemas.
2. Bantu dalam menangani reaksi emosional terhadap proses penyakit
R/ : Membantu klien menangani masalah membuat klien dan keluarga merasa diperhatikan serta tidak merasa sendirian.
3. Dorong dan berikan waktu untuk mengungkapkan masalah
R/ : Mengungkapkan masalah dapat membantu menghilangkan rasa cemas.
4. Kambangkan arti komunikasi jika pasien mengalami kesukaran berbicara
R/ : Komunikasi yang baik dapat membantu menyelesaikan masalah dan mengurangi kecemasan.
e. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangya informasi.
Tujuan : Pasien atau orang terdekat mendemonstrasaikan pemahaman akan perawatan rumah dan intruksi evaluasi.
1. Intruksikan pasien atau orang terdekat mengenai tipe dan perawatan selang yang diperlukan untuk selang gastrostomi
R/ : Memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga mengenai perawatan selang gastrostomi
2. Diskusikan dan ajarkan penatalaksanaan nyeri dan pemberian injeksi jika dipesankan
R/ : Memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga mengenai proses penatalaksanaan penyakit.
3. Diskusikan jadwal radiasi atau penatalaksanaan kemoterapi.
R/ : Penatalaksanaan kemoterapi menjadi suatu masalah berhubungan dengan efek yang ditimbulkannya.
4. Jelaskan kebutuhan untuk mempertahankan perjanjian evaluasi dengan dokter
R/ : Evaluasi dokter menjadi sumber informasi pada klien dan keluarga.
f. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidak adekuatan pertahanan sekunder imunosupresi
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
1. Kaji pasien terhadap bukti adanya infeksi
R/ : Untuk mendeteksi sedini mungkin adanya tanda-tabda infeksi
2. Periksa tanda-tanda vital, demam, mengigil
R/ : TTV merupakan acuan terjadinya Infeksi
3. Tekankan higiene personal
R/ : Personal hygiene dapat mencegah timbulnya mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi
4. Kolaborasi mengenai pemberian antibiotik
R/ : Pemberian antibiotic dapat mencegah infeksi
4. Implementasi
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat dengan menyesuaikan terhadap kondisi klien.
5. Evaluasi
a. Pasien mendemonstrasikan kemampuan untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.
b. Masukan kalori pasien dipertahankan, dan nutrisi seimbang
c. Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada relaksasi
d. Pasien atau orang terdekat memberikan perawatan mengungkapkan rasa
e. Pasien atau orang terdekat mendemonstrasaikan pemahaman akan perawatan rumah dan intruksi evaluasi.
f. Tidak terjadi infeksi Read More...
1. Pengertian
Trauma adalah adalah cedera, baik fisik atau psikis (Dorland, 1998) ,trauma esofagus adalah benda baik tajam atau tumpul, atau makanan yang tesangkut dan tejepit di esophagus karena tertelan. Baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
2. Etiologi
pada anak penyebabnya antara lain adalah anomaly congenital, termaksud stenosis congenital, web, fistel trauma esophagus, dan pelebaran pembulu darah. Pada orang dewasa sering terjadi akibat mabuk, pemakai gigi palsu yang telah kehilangan sensasi rasa palatum, gangguan mental, dan psikosis.
3. Patofisiologi
Ketika benda asing masuk kedalam esophagus dapat membentuk suatu peradangan pada esophagus dan menimbulkan suatu efek trauma pada esophagus kemudian menimbulkan suatu edema yang menimbulkan rasa nyeri. Efek lebih lanjut adalah terjadi penumpukan makanan, rasa penuh dileher dan kemudian dapat mengganggu system pernapasan sebagai akibat trauma yang juga mempengaruhi trachea, dimana trachea memiliki jarak yang dekat dengan esophagus.
4. Manifestasi Klinik
Gejalah sumbatan tergantung pada ukuran, bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya komplikasi yang timbul dan lama tertelan. Mula-mula timbul nyeri didaerah leher, kemudian timbul rasa tidak enak didaerah substernal atau nyeri dipunggung. Terdapat rasa tercekik, rasa tersumbat ditenggorok, batuk, muntah, disfagiah, berat badan menurun, demam, hipersalifasi, regurgitasi dan gangguan napas. pada pemeriksaan fisik terdapat kekakuan local pada leher bila benda asing terjepit akibat edema yang timbul prokresif pada anak-anak terdapat gejala nyeri atau batuk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan ronghi, demam abses leher empisema subkutan, berat badan menurun, gangguan pertumbuhan dan obstruksi saluran napas.
5. Penatalaksanaan
Pasien dirujuk di rumah sakit untuk dilakukan esofagoskopi dengan memakai cunam yang sesuai agar benda asing tersebut dapat dikeluarkan. Kemudian dilakukan esofagoskofi ulang untuk menilai kelainan-kelainan esophagus yang telah ada sebelumnya untuk benda asing, tajam yang tidak bisa dikeluarkan dengan esofagoskopi harus segerah dilakukan pembedahan sesuai lokasi benda asing tersebut. Bila dicurai perforasi kecil, segerah dipasang pipa nasogastar agar pasien tidak menelan dan diberikan antibiotic dan analgetik berspektrum luar selama 7-10 hari agar tidak terjadi sepsis. Bila letak benda asing menetap selama 2 kali 24 jam maka benda asing tersebut harus dikeluarkan secara pembedahan.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi berupa foto polos esophagus servikal dan torakal anteroposteriol dan iteral harus dilakukan pada semua pasien yang diduga tertelan benda asing. Bila benda asing radioopak mudah diketahui lokasinya sedangkan bila radiolusen, dapat diketahui benda implamasi periesofagus atau hiperint plamasi hipofaring dan esophagus bagian proksimal. Esofagogram dilakukan untuk benda asing radiolusen, yang akan memperlihatkan filling defect persisistent. dapat dilakukan tomografi computer. Tindakan endoskopi dilakukan untuk tujuan diagnostik dan terapi.
7. Komplikasi
laserasi mukosa perdarahan, perforasi lokal dengan abses leher atau mediastinitis. perforasi dapat menimbulkan selulitis local dan fistel esophagus. Gejala dan tanda ferforasi esofagus dan antara lain episema subkutis atau mediastinum. Krepitasi kulit didaerah leher atau dada atau pembengkakan leher, kaku leher, demam, mengigil, gelisa, takikardi, takipnea, nyeri yang menjalar kepunggun, dan retrosternal, epigastrium. penjalaran ke pleura menimbulkan pneumotoraks dan piotoraks. Bila lama berada diesofagus menimbulkan jaringan granulasi dan radang oeriesofagus. benda asing seperti batere alkali menimbulkan toksititas intrinsik local dan sistemik dengan reaksi edema dan implamasi local. Trauma esofagus juga bisa mengakibatkan tumor esofagus dimana bila adanya riwayat tertelan zat korosit yang menyebabkan peradangan kronis pada esofagus yang menyebabkan klaina pada esofagus.
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
Nyeri pada saat menelan
Nyeri substernal
Perasaan penuh
Ketakutan dan ansietas
Penurunan berat badan
Napas busuk dan batuk
Suara serak dan batuk
Paralise diagfragma
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidak efektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan obstruksi esofagus
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia dan disfagia
c. Nyeri yang berhubungan dengan proses penyakit
d. Ansietas/takut yang berhubungan dengan prognosa penyakit buruk
e. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kuranya informasi mengenai perawatan rumah.
f. Resiko infeksi berhubungan dengan implamasi pada esofagus
3. Intervensi
a. Ketidak efektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan obstruksi esofagus
Tujuan : Pasien mendemonstrasikan kemampuan untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.
1. Kaji pola napas klien
R/ : Untuk mengetahui sejauh mana pola napas pasien sebaga indikator intervensi selanjutnya.
2. Pertahankan tira baring jika kondisi memerlukannya
R/ : Tira baring dapat membantu relaksasi otot-otot pernapasan
3. Tinggikan kepala tempat tidur 30 sampai 45 derajat (posisi semi fowler)
R/ : Posisi semi fowler (posisi duduk 30 sampai 45 derajat) mengurangi penekanan abdominalis terhadap diafragma.
4. Hindari posisi terlentang
R/ : Posisi terlentang dapat membuat penekanan abdominalis terhadap diafragma sehingga ekspansi paru tidak maksimal.
5. lakukan pengisapan orotrakeal jika dibutuhkan
R/ : Pengisapan orotrakeal membantu pengeluaran mukus yang menyumbat jalan napas.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia dan disfagia
Tujuan : Masukan kalori pasien dipertahankan, dan nutrisi seimbang
1. kaji kemampuan pasien untuk menelan cairan dan makanan
R/ : Untuk mengidentifikasi kemampuan pasien menelan cairan dan makanan guna intervensi selanjutnya.
2. Ukur masukan dan haluaran
R/ : Untuk mengetahui seberapa banyak kebutuhan nutrisi dan cairan yang dibutuhkan klien.
3. Beri dukungan kepada pasien untuk mengunya makanan dengan baik, untuk mengigit dalam jumlah kecil, dan untuk makan pelan
R/ : Jika makanan dalam bentuk halus maka membantu proses pencernaan
4. Bantu pemberian makanan jika perlu
R/ : Membantu pemenuhan nutrisi klien
5. Bantu dalam pemasangan selang NG jika dipesankan
R/ : Membantu pemenuhan nutrisi dengan selang NG
6. Libatkan ahli gizi dalam bantuan perencanan tipe khusus dari makanan
R/ : Untuk pemenuhan nutrisi yang seimbang.
c. Nyeri yang berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan : Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada nyeri
1. Kaji nyeri, lokasi, karasteristik, mulai timbul, frekuensi dan intensitas, gunakan tingkat ukuran nyeri
R/ : untuk mengukur tingkat/kualitas nyeri guna intervensi selanjutnya
2. Ajarkan dan bantu dengan alternative teknik pengurangan nyeri (misalnya imajinasi, musik, relaksasi)
R/ : Pengalihan perhatian dapat mengurangi nyeri
3. Ubah posisi setiap 2 sampai 4 jam
R/ : Posisi yang nyaman dapat membantu mengurangi tingkat nyeri.
4. Berikan analgesik jika dipesankan
R/ : Analgesic dapat mengurangi nyeri.
d. Ansietas/takut yang berhubungan dengan prognosa penyakit buruk
Tujuan : Pasien atau orang terdekat memberikan perawatan mengungkapkan rasa takut dan ansietas dan menggunakan mekasisme koping efektif
1. Kaji kemampuan pasien dan orang terdekat untuk mengkomunikasikan perasaan
R/ : Mengkomunikasikan/mendiskusikan masalah dapat membantu mengurangi rasa cemas.
2. Bantu dalam menangani reaksi emosional terhadap proses penyakit
R/ : Membantu klien menangani masalah membuat klien dan keluarga merasa diperhatikan serta tidak merasa sendirian.
3. Dorong dan berikan waktu untuk mengungkapkan masalah
R/ : Mengungkapkan masalah dapat membantu menghilangkan rasa cemas.
4. Kambangkan arti komunikasi jika pasien mengalami kesukaran berbicara
R/ : Komunikasi yang baik dapat membantu menyelesaikan masalah dan mengurangi kecemasan.
e. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangya informasi.
Tujuan : Pasien atau orang terdekat mendemonstrasaikan pemahaman akan perawatan rumah dan intruksi evaluasi.
1. Intruksikan pasien atau orang terdekat mengenai tipe dan perawatan selang yang diperlukan untuk selang gastrostomi
R/ : Memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga mengenai perawatan selang gastrostomi
2. Diskusikan dan ajarkan penatalaksanaan nyeri dan pemberian injeksi jika dipesankan
R/ : Memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga mengenai proses penatalaksanaan penyakit.
3. Diskusikan jadwal radiasi atau penatalaksanaan kemoterapi.
R/ : Penatalaksanaan kemoterapi menjadi suatu masalah berhubungan dengan efek yang ditimbulkannya.
4. Jelaskan kebutuhan untuk mempertahankan perjanjian evaluasi dengan dokter
R/ : Evaluasi dokter menjadi sumber informasi pada klien dan keluarga.
f. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidak adekuatan pertahanan sekunder imunosupresi
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
1. Kaji pasien terhadap bukti adanya infeksi
R/ : Untuk mendeteksi sedini mungkin adanya tanda-tabda infeksi
2. Periksa tanda-tanda vital, demam, mengigil
R/ : TTV merupakan acuan terjadinya Infeksi
3. Tekankan higiene personal
R/ : Personal hygiene dapat mencegah timbulnya mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi
4. Kolaborasi mengenai pemberian antibiotik
R/ : Pemberian antibiotic dapat mencegah infeksi
4. Implementasi
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat dengan menyesuaikan terhadap kondisi klien.
5. Evaluasi
a. Pasien mendemonstrasikan kemampuan untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.
b. Masukan kalori pasien dipertahankan, dan nutrisi seimbang
c. Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada relaksasi
d. Pasien atau orang terdekat memberikan perawatan mengungkapkan rasa
e. Pasien atau orang terdekat mendemonstrasaikan pemahaman akan perawatan rumah dan intruksi evaluasi.
f. Tidak terjadi infeksi Read More...
CA. COLON
A. KONSEP MEDIS
1. PENGERTIAN
Ca Colon adalah adenokarsinoma dari kolon berbentuk keras massa nodular yang tumbuh secara tidak teratur dan sering luka dan menyebabkan perdarahan.
2. ETIOLOGI
Penyebab nyata dari kanker kolon tidak diketahui tetapi faktor resiko telah teridentifikasi antara lain:
a. Riwayat kanker kolon atau polip dalam keluarga
b. Riwayat penyakit usus inflamasi kronis
c. Diet tinggi lemak, protein, dan daging serta rendah serat
3. INSIDEN
Usia, umumnya kanker kolorektal menyerang lebih sering pada usia tua. Lebih dari 90 persen penyakit ini menimpa penderita diatas usia 50 tahun. Walaupun pada usia yang lebih muda dari 50 tahunpun dapat saja terkena. Sekitar 3 % kanker ini menyerang penderita pada usia dibawah 40 tahun.
Polyp kolorektal, adalah pertumbuhan tumor pada dinding sebelah dalam usus besar dan rektum. Sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Kebanyakan polyp ini adalah tumor jinak, tetapi sebagian dapat berubah menjadi kanker. Menemukan dan mengangkat polyp ini dapat menurunkan resiko terjadinya kanker kolorektal.
Riwayat kanker kolorektal pada keluarga, bila keluarga dekat yang terkena (orangtua, kakak, adik atau anak), maka resiko untuk terkena kanker ini menjadi lebih besar, terutama bila keluarga yang terkena tersebut terserang kanker ini pada usia muda.
4. PATOFISIOLOGI
Tumor dapat berupa massa polipoid, besar, tumbuh kedalam lumen, dan dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai striktura anular(mirip cincin). Lesi anular lebih sering pada bagian rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon asendens.
Secara histologis, hampir semua kanker usus adlah adenokarcinoma(terdiri atas epitel kalenjar) dan dapat menyekresi mucus yang jumlahnya berbeda-beda. Tumor dapat menyebar melalui infiltrasi langsung ke stuktur yang berdekatan,seperti ke dalam kandung kemih,melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon,dan melalui aliran darah,biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah kesistem portal.pronhnosis relatif baik bila lesi terbatas pada mukosa dan sub mukosa pada saat sekresi lebih buruk bila terjadi metastasis ke kelejar limfe.
5. MANIFESTASI KLINIK
Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi.Gejala paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defikasi, pasase darah dalam feses adalah gejala paling umum kedua.Gejala dapat juga mencakup anemia, anoreksia, penurunan berat badan dan keletihan.
6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pengujian darah samar
Enema barium
Proktosigmoidoskopi
Kolonoskopi
Pemeriksaan Karsinoembrionik (CEA)
Pengobatan medis untuk kanker kolon paling sering dalam bentuk pendukung atau terapi ajufan.Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah.Pilihan mencakup kemoterapi,terapi radiasi,dan imunoterapi.
Terapi radiasi sekarang digunakan pada periode praoperatif,intraopeatif,dan pascaoperatif untuk memperkecil tumor,mencapai hasil yang lebih baik dari pembedahan .dan untuk mengurangi risiko kekembuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol.2. EGC: Jakarta.
Ingram,Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperwatan Medikal Bedah Vol 1. EGC: Jakarta.
Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit Edisi 6. EGC: Jakarta. Read More...
1. PENGERTIAN
Ca Colon adalah adenokarsinoma dari kolon berbentuk keras massa nodular yang tumbuh secara tidak teratur dan sering luka dan menyebabkan perdarahan.
2. ETIOLOGI
Penyebab nyata dari kanker kolon tidak diketahui tetapi faktor resiko telah teridentifikasi antara lain:
a. Riwayat kanker kolon atau polip dalam keluarga
b. Riwayat penyakit usus inflamasi kronis
c. Diet tinggi lemak, protein, dan daging serta rendah serat
3. INSIDEN
Usia, umumnya kanker kolorektal menyerang lebih sering pada usia tua. Lebih dari 90 persen penyakit ini menimpa penderita diatas usia 50 tahun. Walaupun pada usia yang lebih muda dari 50 tahunpun dapat saja terkena. Sekitar 3 % kanker ini menyerang penderita pada usia dibawah 40 tahun.
Polyp kolorektal, adalah pertumbuhan tumor pada dinding sebelah dalam usus besar dan rektum. Sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Kebanyakan polyp ini adalah tumor jinak, tetapi sebagian dapat berubah menjadi kanker. Menemukan dan mengangkat polyp ini dapat menurunkan resiko terjadinya kanker kolorektal.
Riwayat kanker kolorektal pada keluarga, bila keluarga dekat yang terkena (orangtua, kakak, adik atau anak), maka resiko untuk terkena kanker ini menjadi lebih besar, terutama bila keluarga yang terkena tersebut terserang kanker ini pada usia muda.
4. PATOFISIOLOGI
Tumor dapat berupa massa polipoid, besar, tumbuh kedalam lumen, dan dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai striktura anular(mirip cincin). Lesi anular lebih sering pada bagian rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon asendens.
Secara histologis, hampir semua kanker usus adlah adenokarcinoma(terdiri atas epitel kalenjar) dan dapat menyekresi mucus yang jumlahnya berbeda-beda. Tumor dapat menyebar melalui infiltrasi langsung ke stuktur yang berdekatan,seperti ke dalam kandung kemih,melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon,dan melalui aliran darah,biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah kesistem portal.pronhnosis relatif baik bila lesi terbatas pada mukosa dan sub mukosa pada saat sekresi lebih buruk bila terjadi metastasis ke kelejar limfe.
5. MANIFESTASI KLINIK
Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi.Gejala paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defikasi, pasase darah dalam feses adalah gejala paling umum kedua.Gejala dapat juga mencakup anemia, anoreksia, penurunan berat badan dan keletihan.
6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pengujian darah samar
Enema barium
Proktosigmoidoskopi
Kolonoskopi
Pemeriksaan Karsinoembrionik (CEA)
Pengobatan medis untuk kanker kolon paling sering dalam bentuk pendukung atau terapi ajufan.Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah.Pilihan mencakup kemoterapi,terapi radiasi,dan imunoterapi.
Terapi radiasi sekarang digunakan pada periode praoperatif,intraopeatif,dan pascaoperatif untuk memperkecil tumor,mencapai hasil yang lebih baik dari pembedahan .dan untuk mengurangi risiko kekembuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol.2. EGC: Jakarta.
Ingram,Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperwatan Medikal Bedah Vol 1. EGC: Jakarta.
Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit Edisi 6. EGC: Jakarta. Read More...
Langganan:
Postingan (Atom)